Kamis, 31 Juli 2014

Jokowi santai menyikapi Manuver kubu Prabowo-Hatta

News / Nasional

Jokowi Santai Menyikapi Manuver Kubu Prabowo-Hatta

Selasa, 29 Juli 2014 | 11:43 WIB
KRISTIANTO PURNOMO Pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) hadir pada pengumuman rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (22/7/2014) malam. KPU menetapkan Jokowi-JK sebagai pemenang Pilpres 2014 dengan memperoleh 53,15 persen suara. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

JAKARTA, KOMPAS.com
— Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menganggap biasa gugatan penetapan pemenang Pemilu Presiden 2014 ke Mahkamah Konstitusi hingga mengusulkan pembentukan panitia khusus Pilpres di Dewan Perwakilan Rakyat oleh kubu pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Jokowi mengaku tidak khawatir atas langkah tersebut.
"Ndak, ndak. Itu kan sesuatu proses yang wajar. Biasalah itu," ujar Jokowi di kediaman Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (28/7/2014) malam.
Pria yang masih menjabat Gubernur DKI Jakarta itu menilai bahwa gugatan yang dilayangkan Prabowo-Hatta layak dihargai karena merupakan bagian dari proses Pilpres. Namun, yang jelas, kubunya sangat mengapresiasi kerja Komisi Pemilihan Umum.
"Kita sangat hargai pelaksanaan pemilu saat ini. KPU sangat terbuka, orang bisa kontrol, C-1 dibuka, seperti ini enggak pernah ada di pemilu sebelumnya," ujar jokowi.
Jokowi juga yakin kedua manuver yang dilakukan kubu Prabowo-Hatta itu tidak akan membalikkan keadaan.
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Djafar menyoroti dua langkah kubu Prabowo-Hatta itu. Ia menganggap langkah tersebut merupakan ganjalan yang cukup berat.
"Ganjalan yang berat dua ini. Dua proses ini pertarungannya akan sangat kuat," ujar Marwan di tempat yang sama.
Sebelumnya, kubu Prabowo-Hatta sudah mendaftarkan perselisihan hasil Pilpres ke MK. Dalam pokok permohonannya, Tim Pembela Merah Putih yang terdiri dari 95 orang kuasa hukum menyatakan bahwa hasil rekapitulasi suara Pilpres tingkat nasional yang dilakukan KPU tidak sah karena terjadi kecurangan.
Menurut Tim Pembela Merah Putih, berdasarkan bukti-bukti berita acara yang ada, seharusnya Prabowo-Hatta memperoleh 67.139.153 suara, sedangkan Jokowi-JK hanya 66.435.124 suara.
Adapun hasil rekapitulasi KPU, Jokowi-JK memperoleh 70.997.85 suara (53,15 persen) dan Prabowo-Hatta memperoleh 62.576.444 suara (46,85 persen). Jumlah selisih kedua pasangan itu mencapai 8.421.389 suara. (baca: Ini Hasil Resmi Rekapitulasi Suara Pilpres 2014)





Ada 53 komentar untuk artikel ini

42 komentator
  • Nama User

    Agustus Merdeka

    Rabu, 30 Juli 2014 | 14:45 WIB
    Prabowo tdk sadar keinginan pengabdiannya thdp Negara slalu dlm posisi dijdkan wayang klo tdk mau dikatakan boneka itu krn sifat menggebu2nya waktu jaman orba harus ikuti kmauan Suharto saat ini harus turuti kmauan koalisi partai
  • Nama User

    Achmad Derek

    Rabu, 30 Juli 2014 | 09:21 WIB
    INTINYA TIDAK SIAP KALAH, Jadi mari sama sama kita lihat bagaimana cara cacing kepanasan menyelamatkan diri untuk menutupi rasa bahwa dia tidak kalah. . . . PERTUNJUKAN AKAN SEMAKIN MENGGELIKAN.
  • Nama User

    Orang Puyeng

    Rabu, 30 Juli 2014 | 08:46 WIB
    SAYA MENYESAL MILIH PRABOWO. TERNYATA DIA GAK KSATRIA
  • Nama User

    Sangumang

    Rabu, 30 Juli 2014 | 07:53 WIB
    Akan ada kegemparan saat MK menyatakan keputusan KPU sudah tepat..., ada dukun yang ditembak mati atas permintaan sendiri, ada yang potong kemaluan dan juga ada yang lakukan jalan kaki pulang pergi jakatra - Yogjakarta... Mari kita nantikan saja....
  • Nama User

    Te Sate

    Rabu, 30 Juli 2014 | 06:31 WIB
    Sekarang yg perlu diwaspadai adalah intervensi Hamdan Zoelva ketua MK, tahun 2007-2012 ybs pernah jadi ketua parte PBB...Pilpre 9 juli kemaren PBB termasuk partai jongos Prabocor...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar